Yogyakarta, Agustus 2026 – Pencegahan stunting selama ini lebih banyak menitikberatkan pada peran ibu. Padahal, keterlibatan ayah juga memiliki pengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak. Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat, Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menghadirkan inovasi promosi kesehatan bertajuk “Suamiku Terbaik” sebagai upaya memperkuat peran ayah dalam pencegahan stunting di RW 10 Jogokaryan, Kelurahan Mantrijeron, Kota Yogyakarta.
Program ini merupakan bagian dari Praktik Kerja Lapangan (PKL) Promosi Kesehatan yang dilaksanakan oleh M. Mirza Nurraihan, Alfi Hamduna, Erlina Sari Pujirahayu, dan Endang Widi Lestari di bawah bimbingan Dr. Heni Trisnowati, M.PH. Program dirancang berdasarkan kebutuhan masyarakat. Melalui pendekatan pemberdayaan, mahasiswa bersama masyarakat mengembangkan program yang tidak hanya memberikan edukasi mengenai stunting, tetapi juga mengajak para ayah untuk terlibat secara langsung dalam pengasuhan dan mendukung terciptanya lingkungan keluarga yang lebih sehat.
Selama satu bulan pelaksanaan program, para ayah didorong untuk membangun kebiasaan positif dalam keluarga, seperti meluangkan waktu bersama anak, mendukung pemenuhan gizi, menghadiri kegiatan Posyandu, serta menerapkan rumah bebas asap rokok. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran bahwa pencegahan stunting merupakan tanggung jawab bersama seluruh anggota keluarga.
Program ini mendapat sambutan positif dari masyarakat. Antusiasme peserta terlihat selama rangkaian kegiatan berlangsung, disertai meningkatnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan perubahan perilaku menuju lingkungan keluarga yang lebih sehat. Beberapa balita juga mengalami peningkatan berat badan selama periode pendampingan. Temuan ini menjadi gambaran bahwa penguatan peran ayah berpotensi menjadi salah satu strategi pendukung dalam upaya pencegahan stunting berbasis keluarga.
Ketua Tim PKL, M. Mirza Nurraihan mengatakan bahwa program “Suamiku Terbaik” dikembangkan untuk membangun kesadaran bahwa pencegahan stunting merupakan tanggung jawab seluruh anggota keluarga, termasuk ayah.
“Pencegahan stunting bukan hanya menjadi tanggung jawab ibu, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif ayah. Melalui program “Suamiku Terbaik” kami ingin mendorong lahirnya kebiasaan positif dalam keluarga sehingga ayah semakin berperan dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal” ujarnya.
Program ini terlaksana melalui kolaborasi antara mahasiswa PKL dengan RW 10 Jogokaryan, Kelurahan Mantrijeron, Puskesmas Mantrijeron, kader Posyandu, serta masyarakat setempat. Kolaborasi tersebut menjadi modal penting dalam menciptakan program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Melalui program “Suamiku Terbaik”, mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat UAD berharap keterlibatan ayah dalam pengasuhan dapat semakin meningkat sehingga mampu mendukung terciptanya keluarga yang sehat dan berkontribusi pada upaya percepatan penurunan stunting di Indonesia. Program ini juga diharapkan dapat menjadi inspirasi dalam mengembangkan inovasi promosi kesehatan berbasis keluarga di berbagai daerah.


